WANITA KARIR MEMBAWA DILEMA

WANITA KARIR MEMBAWA DILEMA

Dewasa ini kita melihat kegelisahan kaum waha dan pemerhati generasi masa depan, baik pemuka agama dan lainnya. Dikarenakan adanya tarik menarik grafitasi fungsi kewanitaan (sebagai istri dan ibu) yang mengharuskan mereka tinggal dirumah dan grafitasi fungsi sosialnya terutama bagi mereka yang terdidik mengamalkan ilmunya secara langsung di sector public segingga memunculkan paradigma baru berkarir bagi wanita. Persoalan berkarir sudah menjadi buah bibir dimana-mana, secara umum bisa disimpulka menempatkan bahwa wanita setidaknya pada posisi sebuah dilemma walaupun dalam syara”k, dibolehkan namun lebih dibatasi oleh kewjiban-kewajiban utama yang lebih berat dan sulit dikerjakan pada saat yg bersamaan yg bersamaan kebutuhan itu. Terlepas dari hal-hal dan tujuan tersebut, realitas sekrang menunjukan bahwa wanita karir dalam segala levelnya, dari posisipaling bawah bahkan level eksekutif kantoran bahkan ada yang menjadi skrup-skrup roda industri.
Jika kita liat dan mentalaah lebih jauh wanita berkarir kita bisa mengelompokan menjadi 2 kelompok;
1. motif klise berkarir yang begitu dominan yaitu faktor ekonomi, akibat tuntutan ekonomi.tuntutan kehidupan pokok keluarga, termasuk dirinya, wanita tidak bisa melihat alternatif lain selain berkarir (bekerja) diluar teritorial fitrahnya (rumah).belum lagi sifat kebanyakan wanita umumnya mengkehendaki anggaran belanja yang lebih besar, diluar kebutuhan primer misal untuk kosmetik, mamang ini sangat manusiawi tapi ini merupakan dorongan yang cukup rawan, dikarenakan cendrung menggunakan segala cara. Bahkan demi sebungkus nasi banyak orang yang menggadaikan aqidahnya.
2. motif yang lebih tinggi tingkatnya adalah motif psikologis, semua manusia termasuk wanita, memiliki naluri untuk bertahan. Salah satu bentuk manifestasinya adalah bahwa ia ingin diakui eksistensinya secara sosial, naluri ini dimanipulasi oleh bangsa barat untuk menarik parawanita rumah,yang salah satu isunya adalah gerakan emansipasi. bangsa barat memancing naluri eksistensi wanita dengan ditanamkan konsep harga diri yang salah yang menganggap karir pria dapat memperbudak para kaum wanita dan menanamkan pada kaum wanita bahwa kedudukan sebagai ibu rumah tangga suatu kehinaan bagi martabat kaum wanita. Maka disinilah lahir kelompok-kelompok pemberontak wanita, untuk menuntut diataranya tiadalagi perbedaan sifat khas pria dan wanita.

KARIR BERBAHAYA
Diamana ada syri’at islam pasti ada kemaslahatan. Bukan tanpa alasan islam membatasi ruang bagi kaum wanita, termasuk dalam meniti karir, wanita karir bisa membawa dapak negatif bagi dirinya dan keluarganya bahkan negara. Wanita karir yang bermotif kebutuha pokok umumnya dihadapkan pada persoalan dilematis,ia harus bekerja tapi juga harus tahan menderita dalam pekerjaannya baik keselamatannya dan tak ada jaminan sosial bahkan mungkin menjadi lampiasan nafsu-nafsu binatang dari syaitan bertopeng manusia. Tapi karena persaingan kerja yg ketat ia tak punya pilihan lain.
Sementara wanita karir yang mencari kepuasan psikologis juga akan berbentuan dengan fitrahnya dan obsesinya. Fitrahnya mengatakan ia harus tinggal dirumah menjdi ibu yang baik dari anak-anaknya dan suaminya dan terlindungi akan dia, namun kenyataannya ia harus berada ditengah tembok-tembok kota yang dipenuhi oleh pria –pria berbadan tegap yang setiap saat bisa menerkamnya. Pertentangan kejiwaan ini akan menimbulakan psikologis antara ketergantungan dan kemandirian wanita. Wanita karir yg sudah berkeluarga dihadapkan antara pilihan membela anak atau pekerjaan. Wanita karir sangat sedikit yang berasil didalam rumah. Mereka yang telanjur mabuk karir akhirnya membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan pembantu yang pada umumnya tak tahu latar belakangnya dan didampingi oleh makluk-makhluk elektronik yang cendrung merusak daripada mendidik, hubungan antar keluarga lebih banyak dilakukan lewat seluler sehingga keharmonisan melayang dan struktur rumahtangga tergoncang. Bahkan pria karir begitu menjadi semangat bekerja bukan tuntutan amanah keluarga melaikan karena kenikmatan dan kepuasan berada ditengah-tengah wanita karir yang berpenampilan dan terkadang berprilaku seronoh. Kondisi seperti ini menjadi wanita objek nafsu pria berselera redah bersyahwat tinggi. Ini juga mengancam keimanan pria yg mencoba komit terhadap keislamannya.
”wanita merupakan tiang negara jika baik wanita baiklah negara ini jika buruk wanita buruklah negara ini”
kalau wanita sudah rusak lalu bagai mana diharapkan generasi yang dilahirkan nantinya….? liat dikota-kota besar tawuran pelajar meraja lela. Karena mereka hilang pondasinya, seharusnya ibunya yang memberi arahan pertama, mereka sibuk dengan karir. Ketika kita dan generasi yang akan datang tidak mau menjadi korban marilah berkorbankan diri kita(kaum hawa) untuk kembali pada fitrahnya menjadi pendidik dan ibu rumah tangga yang baik, jadi ibu dari generasi penerus yang terdidik moralitas dari tangan kaum hawa yang baik.

ttd
Mahyu.Zain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s